Ocim Blog - Berita Terbaru dan Hiburan

Royal Golden Eagle, RGE, Raja Garuda Mas

edit post icon Suka artikel ini? Bagikan :


RGE Menjalin Kemitraan Dengan Petani Untuk Memajukan Desa
Kemitraan Petani 1.jpg
Source: Tribun Medan


Royal Golden Eagle (RGE) tahu persis ada ketimpangan antara desa dan kota di Indonesia. Mereka berusaha untuk mencari solusi salah satu problem terbesar di negeri kita tersebut. Grup yang berdiri dengan nama awal Raja Garuda Mas ini memilih memajukan kawasan pedesaan dengan menjalin kemitraan bersama petani.


Kesenjangan desa dan kota ini ditengarai oleh pemerintah Indonesia. Presiden Joko Widodo menyebutkan jumlah penduduk di kota justru lebih banyak daripada desa. Berdasarkan data per 2010, jumlah warga kota mencapai 49,8 persen. Jumlah ini meningkat menjadi 53,3 persen pada 2015. Bahkan, pada 2025 nanti diprediksi penduduk negeri kita yang tinggal di kota akan bertambah hingga 60 persen.


Hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pasalnya, seiring dengan laju pertumbuhan penduduk yang menurun, kemajuan tidak akan menghampiri desa. Taraf hidup rakyatnya pun tidak bisa meningkat.


Gambaran itu telah terlihat nyata pada saat ini. Jumlah penduduk miskin di Indonesia malah lebih banyak di pedesaan. “Sementara itu, persentase kemiskinan di pedesaan tercatat mencapai 13,96 persen. Hampir dua kali lipat persentase penduduk miskin di kota sebesar 7,7 persen,” kata Presiden Joko Widodo seperti dikutip dari Kumparan.com.


Akibatnya kontribusi desa untuk kemajuan bangsa terbilang kecil. Mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar, menyatakan bahwa sumbangan pertumbuhan ekonomi desa amat minim.


"Akibat pertumbuhan yang timpang antara desa dan kota tersebut, kesenjangan antara desa dan kota cukup tinggi. Kontribusi kota besar dan metropolitan terhadap pertumbuhan mencapai 32 persen, sedangkan sumbangan kota menengah dan kecil terhadap pertumbuhan hanya tujuh persen," ujar Marwan kepada Antara.


Solusi dari problem ini cukup beragam. Namun, pengembangan pertanian merupakan salah satu langkah strategis. Pasalnya, ekonomi pedesaan masih bergantung terhadap pemanfaatan sumber daya alam.


Hal ini kemudian dilihat oleh Royal Golden Eagle sebagai celah untuk berkontribusi memajukan desa. Ini penting untuk mewujudkan filosofi bisnis perusahaan yakni berguna untuk masyarakat dan negara.


Salah satu anak perusahaan RGE, Asian Agri, menjalankannya dengan nyata. Untuk memajukan pedesaan, mereka berupaya mengembangkan pertanian di desa. Caranya ialah membuka kesempatan kepada para petani untuk menjalin kemitraan dengan mereka.


Asian Agri adalah salah satu produsen kelapa sawit terbesar di Indonesia. Mereka mengelola perkebunan yang dikelola secara berkelanjutan seluas 160 ribu hektare. Dari luas itu, 60 ribu di antaranya dikelola oleh petani dalam sistem plasma inti.


Hal itu membuat anak perusahaan grup dengan nama awal Raja Garuda Mas ini memiliki kapasitas produksi besar. Per tahun tak kurang 1 juta ton minyak kelapa sawit mereka hasilkan.


Sebagai bagian dari Royal Golden Eagle, Asian Agri terpanggil untuk berkontribusi dalam peningkatan kemajuan pedesaan. Maka, program kemitraan dengan para petani mereka jalankan.


Dalam sistem kemitraan ini, para petani diminta oleh lini bisnis RGE ini untuk berhimpun dalam satu wadah koperasi. Nanti, mereka akan didampingi oleh Asian Agri untuk pengembangan hasil pertanian dan produksi kelapa sawit.


Salah satu pihak yang mendapatkan uluran tangan dari Asian Agri adalah Koperasi Mandiri Tani Sejahtera dari Desa Tanjung Selamat Kecamatan Kampung Rakyat, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara. Anak perusahaan RGE tersebut mendampingi para petani swadaya di sana dalam mengelola perkebunan kelapa sawit.


Mereka mendapatkan bimbingan teknis mulai dari cara panen yang tepat, pemupukan, cara merawat piringan & gawangan kelapa sawit (area di sekitar pohon, Red.), serta teknik lainnya. Hal itu berguna untuk meningkatkan hasil budidaya kelapa sawit para petani.
Namun, dukungan Asian Agri untuk para petani dalam Koperasi Mandiri Tani Sejahtera tak terbatas bagi teknis pertanian belaka. Mereka juga membantu dalam permodalan hingga pengembangan koperasi.


"Perusahaan juga memfasilitasi pengadaan pupuk, perbaikan jalan, infrastruktur perkebunan lainnya dengan sistem petani membayar cicilan. Memberikan bantuan peremajaan perkebunan kelapa sawit. Petani juga mendapatkan pelatihan pengembangan koperasi, kerjasama tim, alternatif income dengan cara menjalani kerjasama dengan pihak-pihak terkait," kata Askep Petani Swadaya wilayah Sumut, Hendra Jaminsyah, di Tribun Medan.


Dukungan seperti ini amat penting. Para petani tidak hanya butuh bantuan dalam segi teknik pertanian. Segi infrastruktur juga amat krusial. Pasalnya, dengan perkebunan yang ada di wilayah pedesaan, mereka sering kesulitan dalam melakukan pengiriman tandan buah segar.


Berkat dukungan Asian Agri, problem tersebut teratasi. Anak perusahaan RGE itu mampu membuatkan jalan yang memudahkan petani mengirim tandan buah segar secara cepat.


Tak aneh, koperasi beranggotakan 103 petani dengan luas areal kebun sawit sejumlah 965 hektare itu merasa amat berterima kasih dengan Asian Agri. “Harapan kami kerjasama ini bisa berjalan langgeng, sehingga dapat berdampak pada peningkatan perekonomian petani khususnya dan masyarakat desa umumnya," ucap Ketua Kelompok Mandiri Tani Sejahtera, Gimin, kepada Tribun Medan.



MENINGKATKAN SUPLAI DARI PETANI
Kemitraan Petani 2.jpg
Source: Asian Agri


Kerjasama dengan para petani baik petani plasma maupun petani swadaya memang menjadi prioritas Asian Agri. Anak perusahaan grup yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas ini hendak menambah suplai bahan baku untuk proses produksi dari para petani.


Seperti dilaporkan oleh Jakarta Post, per Mei 2012, 40 persen perkebunan Asian Agri dikelola oleh para petani plasma. Mereka berniat meningkatkannya hingga angka 60 persen.


Jumlah ini jauh di atas ketentuan yang digariskan oleh pemerintah. Melalui undang-undang yang berlaku pada 2013, pemerintah mewajibkan perusahaan kelapa sawit menyisakan setidaknya 20 persen dari lahan perkebunannya untuk para petani plasma.


Asian Agri sudah mempraktikkannya dengan baik. Bahkan, lini bisnis Royal Golden Eagle ini memberi tempat untuk petani plasma dua kali lipat dari ketentuan pemerintah.


Para petani juga selalu menyambut baik setiap uluran tangan dari Asian Agri. Pasalnya, mereka akan menikmati banyak keuntungan. Paling kentara adalah peningkatan hasil produksi perkebunan yang dikelola.


Jakarta Post menyebutkan, per 2015, para petani plasma Asian Agri mampu menghasilkan lima hingga enam ton minyak kelapa sawit untuk setiap hektare lahan dalam setahun. Jumlah ini jauh di atas rata-rata hasil produksi petani plasma lain yang hanya satu sampai dua ton per hektare setiap tahun. Namun, Asian Agri masih mengejar target untuk terus menggenjot produksi petani plasama hingga mencapai 7,5 sampai delapan ton.


Tentu saja peningkatan hasil produksi perkebunan bakal meningkatkan kesejahteraaan para petani. Ujung-ujungnya ini juga berpengaruh terhadap kemajuan kawasan pedesaan tempat para petani bermukim. Penghasilan yang meningkat pasti berujung kepada perputaraan roda perekonomian yang baik.


Hal tersebut memang menjadi tujuan oleh Royal Golden Eagle. Mereka ingin berkontribusi aktif dalam pengurangan tingkat kesenjangan antara desa dan kota.


Ini juga merupakan perwujudan nyata filosofi bisnis RGE. Operasional perusahaan mereka memang diwajibkan untuk memberi manfaat kepada masyarakat dan negara secara umum.

Baca Juga